andadari_

Proses Menyimpan Informasi_Retention

on April 25, 2013

Berbeda dengan ingatan jangka pendek yang tempatnya terbatas, ingatan jangka panjang mempunyai kapasitas yang relatif tidak terbatas, sehingga masalah penyimpanan disini bukan terbatasnya tempat tetapi lebih pada kesiapan tempat penyimpanan dan kejelasan informasi yang disimpan serta sistematik/keteraturan organisasi retensi.

Pusat saraf sebagai sarana penyimpanan dapat terganggu karena berbagai sebab (keletihan fisik, keracunan, kerusakan/rudapaksa, dll) yang membuat sistem penyimpanan tidak siap/terganggu sehingga materi yang tersimpan menjadi rusak/hilang (lupa). Menyimpan informasi yang jelas dengan organisasi yang teratur dapat menghindarkan terjadinya kerancuan dengan informasi lain, sehingga pada waktu dipanggil ke kesadaran informasi itu tidak terkontaminasi/terkotori oleh informasi lainnya. Informasi yang sudah pernah disimpan tetapi tidak dapat dipanggil atau dilupakan dapat dijelaskan dari beberapa teori berikut :

– Pudar Karena Waktu (teori atropi = trace decay theory) : semakin lama informasi disimpan akan semakin pudar sehingga sulit dipanggil ke kesadaran. Agar informasi tidak mudah pudar, jejak ingatan (trace) harus dibuat sejelas-jelasnya dengan pemahaman materi yang sempurna dan mengulang-ulang memorisasi sebelum jejak terlanjur kabur.
– Teori Interferensi : jika interval waktu retensi tidak diisi dengan memorisasi baru, ternyata retensi dapat bertahan lebih lama, karena tidak ada materi yang mengganggu. Saling ganggu antar informasi yang tersimpan dapat terjadi di ingatan jangka panjang sebagaimana di ingatan jangka pendek, yaitu inhibisi retroaktif dan inhibisi proaktif.
– Teori Akses : informasi-informasi tersimpan dalam file retensi menurut aturan tertentu dan untuk menemukan kembali informasi itu harus diketahui file mana yang diperlukan dan bagaimana mengaksesnya. Semacam password (kunci pembuka) pada file komputer, ingatan jangka pendek harus menyadari dahulu akses/kode/kunci pembuka file pada ingatan jangka panjang. Setiap individu mempunyai model pengaturan file berikut aksesnya secara spesifik dan tingkat keteraturan dari file-akses ini yang menentukan mudah/sulitnya materi dilupakan.
– Teori Represi : Psikoanalisa dari Freud beranggapan bahwa individu cenderung berusaha melupakan pengalaman-pengalaman yang dirasakan tidak enak, yakni dengan cara menekan pengalaman semacam itu ke wilayah ketidak-sadaran. Informasi itu tidak hilang, tetapi orang tidak menyadari pengalaman masa lalunya. Psikoanalisa dapat mengungkit kembali apa yang ditekan dan dilupakan.
– Degenerasi ; usia dapat mempengaruhi retensi. Pikun adalah gejala kelupaan yang khas orang-orang lanjut usia. Namun anggapan bahwa anak-anak mempunyai ingatan yang lebih jernih/tajam dibanding orang dewasa tidak seluruhnya benar. Pada orang dewasa situasi dan stimulasi yang menimbulkan jejak ingatan jauh lebih banyak dibanding pada anak-anak. Orang dewasa harus selalu mengadakan pilihan materi yang penting untuk diingat dan meringkasnya menjadi non semantik agar mudah memprosesnya, sedang pada anak-anak dengan dunianya yang terbatas berkesempatan untuk mengingat sesuatu secara bebas dan detil.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Sumber : Modul Kuliah Psikologi IKIP Malang oleh Drs. Alwisol, M.Pd
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: