andadari_

Proses Memasukkan Informasi_Memorizing

on April 25, 2013

Semua informasi hasil persepsi dapat di memorisasi. Ingatan jangka pendek memproses informasi, berusaha mengerti dan memahami obyek, menangkap semua stimulus yang berasal dari obyek itu, ukuran, warna, bau, gerak, latar belakang dan sebagainya. Sebagian lain disimpan dalam bentuk semantik seperti nama benda, vokabulari dan definisi. Sebagian lain disimpan dalam bentuk non semantik, seperti gambar, bentuk, suara dan ukuran. karena sifatnya yang ringkas dan padat, informasi non semantik lebih diutamakan dan memberi kesempatan yang lebih baik untuk disimpan dalam ingatan.

Berhasil tidaknya memorisasi dapat diuji dengan mencoba memanggil informasi dari ingatan jangka panjang. Apabila hasilnya cacat/ada yang sukar diingat kembali, memorisasi perlu diulang  dan diuji kembali. Pengulangan ini dapat dilakukan dalam bentuk aksi-motorik untuk informasi ketrampilan/sikap dan bentuk aktifitas mental (menghafal) untuk informasi pengetahuan. Jadi, memorisasi adalah proses belajar, kedua kata ini bisa dipandang sebagai sinonim, sehingga faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar secara umum juga mempengaruhi keberhasilan memorisasi, meliputi faktor-faktor individual, materi/obyek dan teknologi belajar yang digunakan.

Faktor individual meliputi : kecerdasan, minat, sikap, perasaan, usia, kondisi fisik dan faktor-faktor psikologik lainnya. Faktor materi/obyek meliputi: kualitas (mudah-sulitnya) materi, kuantitas (banyak-sedikit), manfaat (langsung-tidak langsung), fungsi (daya pakai) dan nilai (value) materi itu bagi individu orang perorang. Teknologi adalah pendekatan yang dipakai untuk belajar atau memahami/melatih perolehan informasi, seperti alokasi waktu, pengaturan bahan, teknik mencoba-coba (trial and error), latihan terapan, diskusi dan lain sebagainya. Berikut ini beberapa prinsip pengolahan informasi untuk di memorisasi:

-Rehearsal : waktu yang dibutuhkan untuk menghafal informasi tidak berbanding lurus dengan banyaknya materi. Kalau sejumlah materi membutuhkan waktu 10 menit untuk menghafalnya, ternyata dua kali lipat jumlah materi tersebut akan membutuhkan waktu lebih dari 20 menit untuk menghafal.
-Kebermaknaan (meaningfulness): materi yang dimengerti/dikenali makna/artinya akan lebih mudah di memorisasi dibanding dengan materi yang tidak difahami artinya.
-Materi yang terpecah belah/berserakan, cenderung dimemorisasi dengan mengelompokkannya menjadi kesatuan yang bermakna, dengan melihat persamaan unsur, persamaan fungsi dan kemungkinan dasar pengelompokan lainnya.
-Konteks: materi akan mudah dimemorisasi kalau mempunyai kaitan dengan apa yang sudah ada dalam ingatan, semacam penambahan pengalaman baru kepada pengalaman masa lalunya.
-Efek posisi : memorisasi terhadap materi yang panjang cenderung berhasil pada kedua ujungnya, yakni bahan pada awal dan akhir materi.
-Perenungan (reminiscence) : memotong materi menjadi bagian-bagian pendek dan berhenti sejenak sesudah satu bagian dipelajari, merenungkan/ memikirkan kembali apa yang baru saja dipelajari, menjadi semacam pengendapan memorisasi yang membuat hasilnya lebih stabil.
 
 
 
 
 
 
Sumber : Modul Kuliah Psikologi IKIP Malang oleh Drs. Alwisol, M.Pd

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: