andadari_

Atensi dan Peserta Didik

on March 21, 2013

Atensi adalah proses memilih satu sensasi indrawi dari sejumlah sensasi lainnya, mengarahkan (memusatkan) atau menyesuaikan secara aktif organ sensorik dengan stimulus yang terpilih, mendorong kesadaran untuk memperoleh persepsi sejelas-jelasnya, dan menyiapkan organ-organ motorik untuk bertindak.

Penyesuaian organ sensorik terhadap stimulus umumnya dilakukan secara sadar, disebut penyesuaian atau perhatian sadar (voluntary attention). Terhadap keadaan fisik seperti lapar, haus dan sakit/nyeri, atensi terjadi tanpa proses sadar yang jelas, hal ini disebut perhatian serta merta (involuntary attention). Atensi juga bisa dilatih, misalnya polisi yang segera tertarik kepada tingkah laku yang mencurigakan disebut sebagai atensi terbiasa (habitual attention).

Atensi selalu berbentuk kesadaran aktif. Proses penyesuaian yang mungkin semula tidak disadari (pada atensi involunter), sesudah sensasi menjadi atensi segera disadari dan proses mental (fikiran/ingatan) bekerja serius untuk memperoleh pemahaman yang sebaik-baiknya. Berikutnya, proses ini mempengaruhi organ-organ motorik dan sistem saraf simpatik sebagai semacam antisipasi bersiap-siap untuk menerima dan melaksanakan perintah bertindak dari pusat saraf dengan sebaik-baiknya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi atensi :

1. Faktor Stimulus

Secara umum stimulus akan lebih mudah menarik perhatian kalau stimulus itu tampil beda, lain dari yang lain.

Prepotensi stimulus : perbedaan kekuatan atau intensitas stimulus. Semakin kuat suatu stimulus berbeda dengan stimulus lain (yang lemah), stimulus kuat itu semakin berpotensi menarik perhatian.
Change : stimulus yang berubah-ubah lebih menarik perhatian.
Size ; stimulus yang ukurannya beda lebih menarik perhatian ( luar biasa besarnya atau luar biasa kecilnya).
Repetisi : Stimulus yang diulang-ulang akan menarik perhatian, tetapi kalau pengulangannya berjalan terus menerus secara ritmik monoton akan terjadi adaptasi reseptor, kebosanan dan hilangnya atensi.

2. Faktor Individu

Keadaan biologik : kebutuhan fisik-biologis seperti lapar, haus, mengantuk dapat mengarahkan atensi ke makanan, minuman atau kesempatan tidur.
Interes, sikap, perasaan dan aspek-aspek psikologis lainnya secara sendiri-sendiri atau bersamaan dapat mempengaruhi arah perhatian.

3. Faktor Sosial

Berbagai bentuk sugesti (baik langsung maupun tidak langsung, kebutuhan untuk meniru, prasangka sosial dan tabu dapat membentuk atensi.
 
 

Atensi Terkontrol dan Atensi Otomatik

Atensi terkontrol prosesnya berlangsung lambat, terikat dengan perencanaan atau sistematik pribadi dengan memanfaatkan sumber kognitif.

Contoh :
Peserta didik mengerjakan ujian.
Peserta rally membaca peta.
Tukang kebun memperbaiki mesin penyabit rumput.
 

Atensi otomatik prosesnya berlangsung cepat, tidak terikat dengan perencanaan atau sistematik pribadi serta tidak difikirkan terlebih dahulu.

Contoh :
Peserta didik membaca majalah hiburan.
Peserta rally mengendarai mobil.
Tukang kebun menyabit atau mengoperasikan mesin potong rumput.
 
 

Hubungan Antara Atensi dan Peserta Didik

1. Pentingnya ruang kelas yang ideal terbebas dari stimulus-stimulus pengganggu atensi, seperti : suara bising, udara panas, orang lalu lalang di koridor, meja yang bergoyang-goyang dan lain-lain.

2. Membelajarkan adalah merebut perhatian peserta didik. Guru harus berhati-hati menempatkan diri, karena semestinya pusat perhatian peserta didik di kelas bukan pada guru, bukan pada mata pelajaran, tetapi pada dirinya sendiri, perkembangan dan kemajuannya menguasai pelajaran yang diberikan guru.

3. Guru biasanya memiliki teknik tertentu untuk menarik atau memberi aba-aba kepada peserta didik agar memusatkan perhatiannya karena bagian yang akan dijelaskan guru sangat penting. Kata-kata yang biasa digunakan misalnya : “Perhatikan baik-baik”  stimulus aba-aba pemusatan perhatian, disebut manding stimuli. Penggunaan manding stimuli secara sadar dan berencana sangat membantu peserta didik mengorganisir persepsinya, sebaliknya pemakaian yang tidak efektif ( commonsense) membuat stimulus itu kehilangan kekuatannya sebagai perintah awal beratensi.

4. Problem perhatian peserta didik sudah muncul sejak peserta didik berangkat ke sekolah pagi-pagi, bahkan jauh sebelumnya. Pengalaman masa lalu dan berbagai suasana lingkungan sosial mempengaruhi mudah sulitnya peserta didik memusatkan perhatiannya pada proses pembelajaran.

5. Melatih peserta didik memiliki atensi belajar sebagai atensi otomatis, dengan pembiasaan yang bijaksana akan sangat bermanfaat. Atensi terkontrol tidak buruk tetapi membutuhkan energi yang cukup melelahkan. Apabila belajar sudah menjadi otomatik peserta didik tidak merasa lelah belajar dan waktu panjang belajar menjadi terasa pendek.

Sumber : Modul kuliah Psikologi IKIP Malang oleh Drs. Alwisol, M.Pd

 
 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: