Kedudukan Ikhtiar dan Fungsi Akal

Seorang muslim wajib percaya kepada Qadla’ dan Qadar  Tuhan kepada makhluk-Nya. Walaupun segala perbuatan manusia tidak bisa lepas dari ketentuan Tuhan, namun soal taqdir ini janganlah dijadikan harapan manusia sehari-hari, dijadikan pegangan untuk menunggu taqdir baik dan menunggu untung saja.

Di dalam Al Qur-an lebih ditekankan supaya manusia berikhtiar. Walaupun taqdir tidak (jangan) dilupakan, namun di dalam kehidupannya sehari-hari manusia lebih ditekankan kepada soal ikhtiar.

“Bergunalah bagi setiap orang, kebaikan-kebaikan yang ia telah mengusahakannya dan akan merusaklah kepadanya setiap keburukan yang ia telah bersusah payah untuk mengusahakannya.” (Q.S  2 : 286)
“Dan katakanlah (wahai Rasul) : ” Berbuatlah kamu semua, maka Alloh akan melihat perbuatanmu itu dan Rosul pun (juga melihat), demikian pula orang-orang yang beriman.” (Q.S   9 : 105)
 
 
 

Soal hidayah hanyalah urusan Tuhan, Nabi dan para Rasul serta ulama hanyalah bertugas menyampaikan kebenaran agama saja. Tetapi Tuhan Maha Kasih kepada hambaNya. Manusia diberi suatu senjata yang sangat ampuh sebagai alat untuk bisa menerima hidayah. Alat itu yang membedakan antara manusia dengan jenis makhluk yang lain, yaitu akal.

Dengan berfikir, manusia dapat membedakan mana yang benar dan yang salah. Tentu saja hasil fikiran manusia itu tidak mutlak kebenarannya. Nilai kebenaran itu nisbi, relatif oleh karena kemampuan akal sangat perlu dibimbing dan dituntun oleh agama. Namun berfikir adalah jalan pertama untuk dapat menerima hidayah dari Tuhan. Sebagai syarat pertama untuk menerima keterangan dari agama, seseorang harus mempunyai fikiran yang sehat dan berfikir yang bebas dari kefanatikan suatu dogma.

Akal, sebagai anugerah Alloh yang diberikan kepada hambaNya adalah untuk pedoman di dalam menghadapi masalah hidup, maka dengan pertimbangan akal fikiran yang sehat, dengan iradat dan kemauan serta ikhtiar, manusia diberi hak untuk memilih kebaikan daripada kejelekan. Akal pun bisa membedakan dua jalan dan dua perbandingan yaitu baik dan buruk.

“Bukankah Kami telah menjadikan dua mata untuk dia? (supaya dapat melihat jalan yang benar), menjadikan lidah dan dua bibir ( untuk mengatakan dan menanyakan jalan yang benar), dan Kami menunjukkannya dua jalan? (yaitu baik dan buruk).” (Q.S Al Balad ayat 8,9,10)
 
Sabda Rasulullah:
“Apakah tidak engkau fikirkan?”
“Apakah tidak engkau ‘akal’?”
“Apakah kamu tidak mengambil suri tauladan?”
 

Tidakkah kamu diberi mata buat melihat, telinga buat mendengar, hati dan fikiran buat merenung dan berfikir? Begitulah beratus-ratus ayat yang seperti tersebut di atas itu diulang-ulang tiap kali di dalam Al Qur-an. Maka jika manusia sesat, salah atau tidak berada di jalan yang benar janganlah menyalahkan manusia lainnya. Mungkin memang kesalahan berasal dari diri sendiri.

Sumber : Hasyim, Umar. 1992.  Memahami Seluk Beluk Takdir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s